Bupati Achmad Fauzi Kembalikan Kesakralan Keraton Sumenep di Hari Pertama Kerja -->


Bupati Achmad Fauzi Kembalikan Kesakralan Keraton Sumenep di Hari Pertama Kerja

Senin, 01 Maret 2021, 12:55 PM
loading...
Keraton Sumenep
Bapati Sumenep, Achmad Fauzi bersam istrinya, Nia Kurnia berdoa sebelum memasuki Keraton Sumenep melalui Labang Mesem, Senin (1/03/2021) pagi. (Foto: IST/Dok. Kominfo Sumenep)


SUMENEP, E-KABARI.com - Bupati Sumenep, Achmad Fauzi mengembalikan kesakralan Keraton Sumenep sebagai warisan leluhur di hari pertama kerja, Senin (1/03/2021) pagi.


Agenda pertama kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi dan Wakil Bupati Nyai Hj. Dewi Khalifah ini sesuai janji politik keduanya saat pencalonan di Pilkada tahun kemarin.


Hal yang dilakukan Bupati Fauzi untuk mengembalikan kesakralan Keraton Sumenep di antaranya menetapkan tata cara masuk ke salah satu cagar budaya itu.


Mulai saat ini, budaya dan tata cara masuk Keraton Sumenep seperti zaman kerajaan. Yakni Labang Mesem menjadi pintu utama.


Semua orang yang berkepentingan, termasuk Bupati Fauzi sendiri akan masuk dan keluar Keraton Sumenep melalui Labang Mesem.


"Labang Mesem dan beberapa pintu di Keraton Sumenep dijaga oleh pasukan keraton yang menggunakan baju adat Sumenep," tutur Fauzi, Senin (01/03/2021).


Hal ini sebagaimana terlihat di lokasi pagi tadi ketika Bupati Fauzi hendak memasuki Keraton Sumenep.


"Pendopo Agung Keraton Sumenep ditetapkan sebagai halaman depan, sedangkan Rumah Dinas (Rumdis) Bupati Sumenep adalah bagian belakang," lanjut suami Nia Kurnia tersebut.


Karena itulah, seluruh tamu, penghuni, termasuk bupati dan keluarga harus melewati Labang Mesem sebagai pintu utama Keraton Sumenep.


Fauzi juga menyatakan jika pada saat melewati kamar raja, pengunjung dan penghuni wajib membuka alas kaki. Pun dengan Bupati dan keluarganya.


Bahkan, siapapun kini dilarang merokok di areal Keraton Sumenep.


"Semua itu sebagai bentuk penghormatan bagi para leluhur," ungkap Fauzi.


Selebihnya, tujuan dari kebijakan tersebut yaitu agar bangunan dan cagar budaya yang ada di Keraton Sumenep tidak rusak dan tetap asri meski usianya hampir 800 tahun.


Kata politisi PDI Perjuangan itu, semua ini awalnya berdasarkan aspirasi dari masyarakat, khususnya para keturunan Raja Sumenep yang menginginkan pelestarian Cagar Budaya Keraton Sumenep.


“Ini sesuai dengan masukan pihak-pihak yang menginginkan nilai-nilai budaya di Sumenep lebih dihargai. Termasuk keberadaan Keraton Sumenep,” pungkas Fauzi. (Ir/Fiq)

TerPopuler