Kasus Bullying Makin Serius -->

Kasus Bullying Makin Serius

Selasa, 18 November 2025, 10:32 PM
loading...

Kasus Perundungan
Kasus Bullying Makin Serius. (Ilustrasi/IST/Pinterest)


Oleh : Naila Dhofarina Noor, S.Pd *)


Dunia pendidikan dikejutkan dengan aksi pembakaran yang dilakukan oleh seorang santri dan seorang siswa. Berita tentang keduanya mencuat di banyak media dengan latar belakang yang sama. Keduanya adalah korban bullying yang mencoba meluapkan amarahnya. Korban luka pun berjatuhan. Lantas, bagaimana Islam memandang hal ini?


Membakar karena Dibully


Bullying bukanlah hal yang asing saat ini bahkan menggejala di berbagai daerah. Kejadian tanggal 7 Oktober 2025 di hari Jumat, misalnya. Seorang siswa SMA diberitakan laman cnnindonesiacom (08/11/225) melakukan pembakaran di area sekolah. Pelaku yang merupakan kelas 12 ini luka-luka karena mau bunuh diri. Puluhan siswa lain juga menjadi korban luka-luka. Motif aksinya itu disinyalir karena sering dibully dan sering menonton aksi 'koboy' mahasiswa di Amerika.


Sebelumnya, hari Jumat tanggal 31 Oktober 2025, seorang santri di Aceh Besar diberitakan laman beritasatucom (8/11/2025) melakukan pembakaran asrama pondok pesantren tempat dia belajar. Ia sengaja membakar asrama sebab sakit hati karena kerap menjadi korban bullying oleh rekan-rekannya.


Menganalisa Akar Masalah Bullying


Menurut situs alodokter, bullying adalah perilaku menyakiti, merendahkan, atau menindas orang lain yang dilakukan secara sengaja dan berulang kali. Dampak dari bullying ini bisa merugikan korban juga pelaku, bahkan yang tidak ada hubungannya dengan keduanya. Bullying yang tidak segera diatasi akan menimbulkan dampak yang serius.


Anak-anak dengan kebiasaan tertentu dapat menjadi sasaran bullying. Kurangnya intensitas bergaul dengan teman-temannya membuatnya tidak banyak memiliki teman di sekitarnya sehingga mudah bagi pelaku bullying menjadikan dia sasaran. Penyakit mental bawaan yang dimilikinya juga bisa menjadikan ia bersikap lemah dan mudah terasingkan. Rasa insecure dan self esteem yang rendah. Fisik atau asal tinggal yang berbeda dengan yang lain, apalagi ada kelainan dan kebiasaan berbeda biasanya dapat menjadi bahan ejekan.


Selain dari sisi pribadi, sisi dunia luar seperti sosial media juga turut andil dalam persoalan bullying ini. Sosial media yang memberikan tayangan normalisasi bercanda bullying menjadikan pelaku semakin merasa tidak ada masalah. Di sisi lain, sosial media bagi korban bullying bisa menjadi rujukan inspirasi bagaimana melampiaskan amarahnya atau dendamnya.


Adapun lembaga pendidikan kita tahu saat ini menghadapi banyak permasalahan. Tidak bisa mengatasi kasus bullying sampai ke akarnya. Belum lagi menyelesaikan masalah lain yang tidak kunjung dapat terselesaikan.


Sistem pendidikan hari ini yang sedang kita jalani sejatinya berjalan dengan roda sekuler kapitalistik. Memisahkan antara agama dan kehidupan, sehingga nampak dari fokusnya hanya pada aspek materi. Sedangkan kepribadian yang luhur gagal untuk diraih.


Pandangan Islam Mengatasi Bullying


Dalam Islam, pendidikan bertujuan membentuk kepribadian Islam. Peserta didik diajarkan memiliki pola pikir yang tepat dalam mencerna masalah dan menyelesaikan dengan sudut pandang Islam. Pola sikap akan terbentuk sesuai dengan bagaimana syariat Islam mengajarkan. Nilai maknawi dan nilai ruhiyah sangat ditonjolkan dari pada nilai materi dalam proses belajar mengajarnya.


Islam juga memiliki kurikulum sendiri yang berbasis akidah Islam, dengan menjadikan adab sebagai dasar pendidikan. Adapun dalam hal pembiayaan pendidikan juga pemberian sanksi maka negara memiliki tanggung jawab besar. Negara yang dikenal dalam Islam adalah Khilafah, wajib menjadi penjamin utama pendidikan, pembinaan moral umat, dan perlindungan generasi dari kezaliman sosial.


Dalam mengatasi masalah bullying, Islam memiliki mekanisme sanksinya. Pelaku yang termasuk anak-anak dengan umur yang belum mencapai mukallaf maka tidak dapat dihukum namun tetap dalam pembinaan.


Rasulullah SAW bersabda, “Telah diangkat pena dari tiga golongan, yaitu orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia balig, dan orang gila hingga ia berakal (waras).” (HR Abu Dawud)


Diangkat pena atau dalam bahasa arabnya rufi’a al-qalamu dalam hadis ini maksudnya adalah diangkat taklifnya atau beban hukumnya. Demikian yang dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah jilid 3 hal 36.


Apa yang dilakukan anak tersebut harus didalami lagi apakah ada kelalaian walinya. Jika ada, maka wali akan dikenakan hukuman sesuai kebijakan Khalifah atau hakim. Jika tidak ada unsur kelalaian wali, maka anak akan diberikan pembinaan kepada anak dan juga walinya.


Adapun bagi anak yang menjadi pelaku bullying itu sudah terdapat satu atau lebih di antara tanda-tanda baligh berarti ia sudah dianggap mukalaf dan dapat dijatuhi sanksi berupa diyat jika melakukan perbuatan kriminal seperti menyakiti anggota tubuh korban.


Dalam kitab Nizhamul Uqubat yang ditulis Abdurrahman Al-Maliki, sanksi berupa diyat tersebut sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW “Pada dua biji mata, dikenakan diyat. Pada satu biji mata, diyatnya 50 ekor unta. Pada dua daun telinga dikenakan diyat penuh.”


Berkenaan dengan bullying ini, ada kisah pada masa Rasulullah yang bisa kita jadikan ibrah.


Suatu ketika terjadi kesalahpahaman antara dua sahabat nabi yang bernama Abu Dzar al-Ghifari dan Bilal bin Rabah.


Abu Dzar tanpa sadar mengatakan, “Dasar, kulit hitam!”
Mendengar itu, Bilal sangat tersinggung.
Lantas, ia menemui Rasulullah dan menceritakan ketersinggungannya itu.
Rona wajah Rasulullah SAW seketika itu berubah. Kemudian beliau bergegas menemui Abu Dzar.
Sampai di hadapan Abu Dzar, beliau berkata kepadanya, “Sungguh, dalam dirimu masih terdapat sifat kejahiliyahan!”


Mendengar perkataan Nabi itu, sontak Abu Dzar menangis terkujur. Ia pun memohon ampun kepada Allah Subhanu wa Ta’ala atas perkataan tak sadarnya yang menyinggung sahabatnya itu. Ia begitu nampak menyesal dan bertekad tidak mengulanginya. Tak hanya itu, Abu Dzar juga memohon maaf kepada Bilal.


Ia mendatangi Bilal dengan tersungkur bersujud memohon maaf. Ia juga menempelkan pipinya di atas tanah dengan meminta Bilal menginjaknya. “Injaklah wajahku, wahai Bilal! Injak wajahku! Injak wajahku, Bilal! Demi Allah, injaklah wajahku, wahai Bilal! Aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan mengampuni sifat jahiliah dari jiwaku!”, berkali-kali Abu Dzar meminta untuk diinjak oleh Bilal.


Ternyata Bilal hanya berdiri di tempat. Bilal menangis melihat sebegitu menyesalnya sahabatnya, Abu Dzar.


Bilal pun berkata, “Semoga Allah mengampunimu, Abu Dzar. Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di muka yang penuh cahaya sujud pada Allah.” Keduanya lalu menangis dan akhirnya berpelukan.


MasyaAllah indahnya buah dari pendidikan Islam. Output-nya menjadikan seseorang itu mudah disampaikan kebenaran karena memiliki cara berpikir yang benar dan senantiasa menghiasi tingkah lakunya dengan kebaikan.


Penutup


Sakit hati karena dibully yang merupakan fitrah yang dimiliki setiap insan sejatinya bisa disikapi dengan tepat. Anak-anak yang masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menyikapi sakit hati itu sesuai dengan informasi yang diterimanya lalu diserapnya. Sistem pendidikan sangat mempengaruhi pola pikir dan sikapnya.


Dengan mencerabut akar masalah pendidikan yakni sekuler kapitalis kemudian menggantinya dengan sistem pendidikan Islam, kasus bullying bisa diatasi. Gurita bullying di kalangan anak-anak di lingkungan lembaga pendidikan semestinya menjadi masalah kita bersama dan menjadi hal krusial untuk kita atasi dengan kembali kepada Islam yang telah memberikan panduan teladan mendidik generasi. []


*) Penulis dan Guru

TerPopuler