Krisis Mahasiswa Kritis Gerakan -->


Krisis Mahasiswa Kritis Gerakan

Kamis, 07 November 2019, 12:09 PM
loading...
Yuda Yulianto
Yuda Yulianto. (Foto for E-KABARI)

Oleh: Yuda Yulianto*

Mahasiswa adalah insan akademis yang belajar di lingkungan perguruan tinggi yang mempunyai idealisme dan pola pikir yang bernalar kritis dan tranformatif. Peran penting seorang mahasiswa adalah menjadi harapan bangsa serta masyarakat, di mana mahasiswa dituntut untuk peka terhadap dinamika sosial. Ini bentuk aktualisasi seorang mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi. Namun kenyataannya, hari ini masih banyak mahasiswa yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Apatis dengan keadaan. Tidak peka dan tidak peduli terhadap dinamika persoalan yang ada. Banyak sekali mahasiswa yang terhegemoni dengan hal-hal yang baru. Inilah bentuk mahasiswa yang hedonis.

Lalu apa yang engkau banggakan wahai mahasiswa? Jika pola pikirmu masih saja seperti itu. Lihatlah dan renungkan sejenak, mahasiswa mempunyai gelar yang berbeda dan lebih tinggi dari pada seorang pelajar biasa. Mahasiswa sebagai agent of change, agent of control, dan agent of analysis. Sudah saatnya mahasiswa bangkit dari tidur pulasnya. Sudah waktunya mahasiswa peka dan peduli untuk membela rakyat kaum dhu’afa walmustadh’afin.

Jika seorang mahasiswa masih saja seperti anak pelajar lainnya, tidak peka dan peduli terhadap persoalan, maka saya mahasiswa yang mempunyai pola pikir seperti itu tidak pantas disebuat seorang mahasiswa. Kenapa? karena ia tidak mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam tri fungsi mahasiwa. Tidakkah kalian malu dengan almamatermu? Mana bentuk aktualisasi intelektualmu selama belajar di perguruan tinggi? Sungguh sangat miris jika melihat mahasiswa sepertu itu. Apakah yang Anda pikirkan selama masuk kuliah? Apakah hanya memikirkan IPK takut rendah? Atau bahkan masuk kuliah karena takut tidak diabsen oleh dosenmu?

Kita lihat pergerakan mahasiswa yang sangat masif di era Orde Baru tahun 1998. Itulah mahasiswa yang sesungguhnya. Di mana semua mahasiswa berkumpul untuk melawan kezaliman di era Orde Baru. Mahasiswa harus peka terhadap persoalan dan peduli terhadap bangsa serta terhadap hak-hak masyarakat. Sehingga, terjadilah sebuah pergerakan yang mampu untuk menuntaskan sebuah persoalan yang sangat besar pada tahun 1998 waktu itu. Masyarakat membutuhkan ide dan gagasan serta gerakanmu wahai mahasiswa.

Cobalah kita berpikir sejenak, sejarah Negeri dibangun oleh anak-anak muda. Kampus dan organisasi tempat untuk belajar, melahirkan gerakan mahasiwa yang mampu mengubah dunia. Karena mahasiswa pencetus perubahan. Lihatlah hari ini di mana Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sedang berkecamuk dengan berbagai persoalan. Dililit hutang, pengangguran ada di mana-mana, juga banyak anak yang tidak bersekolah. Bahkan, NKRI dan Pancasila sudah mulai dirongrong oleh kelompok intoleran dan radikal. Inilah tugas penting mahasiswa hari ini untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

Ayo bangkit dan bergeraklah wahai mahasiwa! Mahasiswa sebagai perintis, mahasiswa harus punya pendapat sendiri, tidak takut salah, tidak takut bersuara. Karena masih banyak sekali kenyataan di masyarakat yang harus dihadapi oleh mahasiswa. Sistem pendidikan yang berorentasi pada uang, para petinggi Negara yang sibuk berpolitik, dan berbagai persoalan yang tak terhitung lainnya.

Mahasiswa bukan hanya diam, duduk manis dan nyaman di ruangan ber-AC, sembari mendengarkan petuah dosen. Ingatlah mahasiswa, perubahan akan terjadi karena ada pergerakan yang masif dan taktis. Di kampus kita hanya belajar teori, tanpa mengetahui bagaimana praktiknya. Kenapa mahasiswa harus bergerak? Karena bergerak membutuhkan keberanian, seperti Tan Malaka.

Ayo kita lawan kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap rahkyat. Mahasiswa harus melawan, bahkan wajib hukumnya untuk menentang ketidakadilan yang terjadi di Negeri ini. Kini sudah saatnya mahasiswa bangkit, menyeruakan keresahannya. Ketika mahasiswa menekan terhadap penguasa yang dzalim, maka yang terjadi akan jatuh dari kursinya. Inilah akibat tekanan dan keberanian mahasiswa. Karena mahasiswa memang harus berjuang melalu ide dan gagasannya serta suara teriakannya yang lantang. Hidup Mahasiswa!!!

*Mahasiswa Semester VII Prodi Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Abdurachman Saleh Situbondo. Saat ini menjabat Presiden Mahasiswa (Presma) Periode 2019-2020.

TerPopuler