Perhatianmu adalah Kewarasannya -->

Perhatianmu adalah Kewarasannya

Sabtu, 26 Oktober 2019, 10:23 PM
loading...

Mochamad Fitrah Ilhami
Mochamad Fitrah Ilhami bersama istrinya. (Source: Instagram fitrahilhami)

Ada masa ketika aku dan istri merasa letih. Aku bekerja di luar, berangkat pagi dan pulang ketika adzan maghrib akan berkumandang. Sedang, istri seharian penuh mengurus rumah serta anak-anak. Dan keletihan itu makin terasa tatkala sejak tiga hari yang lalu dua bocah sama-sama demam.

“Ayas panas badannya, Bang.” Begitu tulis istri sesaat setelah aku pulang kerja.

Kutaruh tas punggung di sembarang tempat, lantas berjalan menuju Ayas yang terbaring lemas.
 
“Abi,” lirih si sulung tatkala kusentuh dahinya.

“Ayas sakit?”

Yang kutanyai mengangguk lemah. Matanya terlihat sayu.

Aku tersenyum menyemangatinya, “Gak apa. Abis ini sembuh. Abi belikan obat, ya.”

Aku tahu setelah ini kami harus menyiapkan fisik dan mental. Karena malam nanti kami akan begadang mengurus bocah. Seperti pengalaman yang lalu-lalu, kalau lagi demam, suhu Ayas akan meningkat pada tengah malam. Waktu-waktu itulah kami harus stand by berjaga-jaga dan mengamati kondisinya. Selepas isya’, Ayas tidur setelah dikasih obat penurun panas.

“Bang, Adek juga panas ini.” Dengan ekspresi mewek, istri keluar dari kamar.

Ya Allah. Aku menepuk dahi.

Malam itu tidak ada waktu tidur buat kami. Bergantian kami menggendong si kecil yang rewel. Tugas istri jadi tambah karena harus mengganti dan membersihkan sprei yang habis dimuntahin Ayas. Pukul satu dini hari kami masih sibuk mengurus bocah yang gantian nangis. Aku menatap istri yang meski nampak jelas sedang lelah, tapi masih kuat gendong si kecil.

“Abang bobo, gih. Besok kan kerja.”

Aku menggeleng, “Mau nemenin Neng sama anak-anak.”

Di jam dua dini hari anak-anak baru bisa diboboin di kasur meski kadang batuk dan nangis lagi. Aku sudah kayak zombie, ngantuk tak tertahan, mata lengket sekali.

“Bobo gih, Bang.” Istri menyentuh bahuku.

“Neng gimana?”

“Iya abis ini aku bobo juga. Mau ngompres anak-anak dulu.”

Aku segera mengambil minyak zaitun, meletakkannya di piring.

“Ngapain, Bang?” istri nampak heran.

“Sini aku pijitin, Neng.”

“Loh, gak usah. Bobo aja.”

“Iya abis ini aku bobo. Yang lama.”

“Kebiasaan emang.”  Dia tertawa. “Gak apa tah mijitin aku?”

“Gak gratis. Sejam 70 ribu.”

Dia tertawa lagi.

Aku segera memijat kaki dan sampai punggungnya. Sambil nguap-nguap, aku terus memijat.

“Abang ndak capek?”

Aku menggeleng. Tapi kalau boleh jujur aku lelah banget. Asli. Pingin tidur. Hanya saja aku ingin berbagi semangat dengan dia. Ya, lewat pijatan khas orang ngantuk ini. Karena aku tahu dia juga pasti capek berat. Jauh dari orang tua, mengurus dua anak yang lagi sakit, besok harus aku tinggal kerja. Itu butuh kesiapan fisik dan mental yang luar biasa.

Dengan memberikan perhatian khusus pada istri, semoga ia merasa bahwa ia tak sendirian menghadapi ujian anak sakit.

Dahulu, pernah aku berlaku semaunya sendiri. Ketika anak sakit, aku tidur seperti biasa. Hingga tiba-tiba di pagi hari kulihat istri meneteskan air mata di pojokan kamar.

“Aku capek. Pingin pulang.” Begitu jawabnya ketika kutanya mengapa ia menangis. “Aku kayak sendirian di sini.”

Sejak saat itu, aku sedikit bisa memahami bahwa istri butuh ditemani. Butuh diperhatikan. Sesetrong-setrongnya wanita, pasti akan merasa ngenes kalau ia berjuang sendiri di rumah. Maka seperti malam ini, aku kasih perhatian dia lewat pijatan. Dan benar saja, di esok hari meski semalam kurang tidur, tapi istri tetap semangat mengurus bocah. Tak ada tetesan air mata di pojokan kamar seperti dahulu kala. Lelah jadi tak terasa.

Ah, jadi teringat saat istri cerita bahwa dulu Mamah (mertua) pernah nangis sambil ngesot-ngesot di teras rumah. Warga sekampung sampai datang ke rumah, dikira Mamah kesurupan. Saat ditanya apa sebabnya? Ternyata Mamah nangis karena kecapekan mengurus empat anak dan seabrek urusan domestik.

Pagi sekali beliau harus masak, terus lanjut cuci baju, setelah itu menyiapkan anak-anak sekolah. Setelah itu jemur pakaian. Kemudian harus ke pasar buat bekal masak besok. Siangnya menyetrika pakaian. Lelah fisik mungkin masih bisa ditahan, tapi lelah batinnya itu yang sulit. Anak cowok Mamah (adik iparku) saat masih kecil sulit banget diatur. Disuruh sekolah gak mau, masuk madrasah malah kabur. Dan kata istri, Mamah merasa berjuang sendiri. Bapak nyantai saja. Dan pada suatu titik, meledaklah bom waktu itu. Mamah nangis gerung-gerung sambil guling-guling di lantai. Membuat riuh sekampung.

“Sejak saat itulah Bapak mulai ikut bantu-bantu urusan domestik. Meski pada akhirnya malah bikin Mamah tambah capek, karena apa yang disuruh Mamah gak pernah bener dilakuin Bapak. Suruh lihat tempe yang lagi digoreng, eh malah dilihat doang, gak dibalik waktu mateng. Gosong dah jadinya,” tutup istri dalam kisahnya, membuatku terkekeh. “Tapi mulai saat itu Mamah gak pernah nangis-nangis lagi.”

Kesimpulannya, ternyata perhatian suami itu benar-benar penting untuk menjaga kewarasan istri.

****
Surabaya, 26 Oktober 2019

Fitrah Ilhami
Penulis 10 buku keluarga

Sumber: FB Mochamad Fitrah Ilhami

TerPopuler