Wisata Religi Asta Gurang Garing di Lombang Tetap Ramai Peziarah -->


Wisata Religi Asta Gurang Garing di Lombang Tetap Ramai Peziarah

Jumat, 13 November 2020, 12:52 PM
loading...
Asta Gurang Garing
Gapura Asta Gurang Garing di Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. (Foto RK/E-KABARI)


SUMENEP, E-KABARI.COM - Sejumlah wisata religi di Kabupaten Sumenep tetap ramai dikunjungi oleh peziarah meski pandemi Covid-19. Salah satunya adalah Asta Gurang Garing yang berada di Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep.


Peziarah ramai mengunjungi Asta Syekh Mahfudz terutama saat malam Jumat. Meskipun setiap malam juga ada peziarah yang mengunjungi Asta Gurang Garing.


Makam Syekh Mahfudz itu lokasinya berada di dataran yang agak tinggi dan masuk sekitar 2 kilometer dari jalan raya yang menghubungkan Desa Lombang dengan Desa Lapa Taman, Kecamatan Dungkek.


Mungkin bagi masyarakat luar, Asta tersebut tidak terlalu familiar. Namun demikian, para peziarah dari berbagai pelosok di Kabupaten Sumenep selalu ada setiap malam di lokasi Asta Gurang Garing tersebut.


Meski berada di dataran agak tinggi, kawasan Asta Gurang Garing berpasir, mengingat lokasinya tidak jauh dari pantai.


Asta Syekh Mahfudz itu menjadi jujukan ziarah banyak orang, serta kijingnya terlihat paling gagah dan berwibawa daripada kijing lain di area pemakaman tersebut.


Dalam cerita yang masyhur di telinga para peziarah, julukan Gurang Garing memiliki hubungan dengan Pemerintahan Sumenep di masa hidup Syekh Mahfudz.


Alkisah, waktu itu Syekh Mahfudz sempat akan dijadikan sebagai hakim di Keraton Sumenep. Namun dengan alasan tidak dapat meninggalkan para santrinya, akhirnya Syekh Mahfudz menolak permintaan raja Sumenep.


Tak pelak, penolakan tersebut membuat raja marah, hingga akhirnya Syekh Mahfudz mendapatkan hukuman dari raja, yaitu diperitahkan untuk mengisi gentong air raksasa, tepatnya gentong tersebut berada di halaman belakang kerajaan.


Menurut cerita turun temurun, Gentong tersebut berukuran besar dan kering alias tidak ada airnya sama sekali. Ukuran besar “besar” itulah yang disebut dengan Gorang atau Gurang, sedangkan “kering” disebut Garing, sehingga dari sanalah asal mula penamaan Asta Gurang Garing.


Maka sampai hari ini banyak orang menyebut Syekh Makhfudz sebagai K. Gurang Garing. Yang jika dsandarkan pada cerita tadi berarti gentong raksasa yang kering.


Asta Gurang Garing juga banyak dipercaya memiliki kekuatan mistis tersendiri. Peziarah Asta Gurang Garing yang memiliki hajat dilarang untuk berharap sesuatu yang menyimpang dari ajaran syariat.


Maka menjadi pantas, jika hingga saat ini Asta Gurang Garing tidak pernah sepi peziarah, apalagi saat malam Jumat. Bahkan, ada beberapa peziarah yang rela bermalam di lokasi Asta dalam waktu yang lama.


Arif, salah satu warga Desa Legung, Kecamatan Batang-Batang, yang setiap malam Jumat rutin berziarah ke Asta Gurang Garing bercerita apa yang dirasakan saat dirinya berada di area Asta tersebut.


“Auranya berbeda jauh dari sebelum masuk area Asta dan setelah masuk ke kawasan Asta. Rasanya seperti kita diberikan ketenangan, nyaman. Ya memang semuanya dari Allah SWT, tapi melalui perantara ini, kita mencoba lebih dekat dengan sang pencipta,” ungkapnya, Kamis (12/11/2020) malam.


Menurut Arif, tidak sedikit para peziarah yang datang ke Asta Gurang Garing untuk mengharap barokah. Apalagi di malam Jumat, area pemakaman selalu dipadati peziarah dari berbagai daerah di Sumenep.


“Jadi, Asta ini juga sangat saya rekomendasikan untuk para wisatawan yang ingin ziarah ke Sumenep,” tutupnya. (RK/Fiq)

TerPopuler