Sebatas Kata Cinta dari Sang Sufi -->


Sebatas Kata Cinta dari Sang Sufi

Jumat, 03 April 2020, 8:09 AM
loading...
Sebatas Kata Cinta dari Sang Sufi
Moh. Busri. (Foto for E-KABARI)

Oleh: Moh. Busri*

Kehidupan dalam keseharian manusia tidak akan pernah lepas dari adanya kasih dan sayang, dan hal itu sejak Adam diciptakan sampai saat ini dikenal dengan kata cinta. Entah ada keistimewaan apa dalam kata tersebut, sehingga sebagian orang mengatakan bahwa manusia hanya dapat hidup bahagia jika dirinya mampu merasakan hakikat cinta yang sebenarnya. Manusia diciptakan oleh Tuhan berpasang-pasangan, laksana malam yang tidak sempurna tanpa siang, dan begitu pula dengan Adam yang waktu itu 'menuntut' Tuhan karena hanya menciptakan dirinya seorang diri tanpa pasangan. Sehingga, Tuhan pun menciptakan  Hawa untuk Adam yang sampai saat ini anak cucu keturunan Adam dilahirkan ke dunia dengan berpasang-pasangan.

Sebenarnya berbicara cinta tidak hanya tentang rasa untuk sang kekasih yang pada saat ini dikenal sebagai pasangan hidup. Tapi cinta adalah tentang ketulusan hati untuk tidak sekadar menjadi teman ataupun sebagainya, karena cinta selalu menganggap segala sesuatu yang dicintainya sebagai dirinya sendiri. Jika kita mencintai orang tua kita, maka tidak akan ada sedikitpun keluh kesah yang dirasakan selagi hal itu untuk melukiskan senyum di bibirnya. Begitu juga dengan cinta untuk sang kekasih, maka tak akan ada rasa sakit dalam setiap perjalanannya karena yang dirasakan hanya keindahan.

Sujiwo Tejo sebagai salah satu budayawan mengatakan bahwa jika cintamu masih merasakan pengorbanan, maka bohong semua cintamu. Sebab dalam cinta tidak pernah ada rasa sakit, bahkan setiap darah yang menetespun akan terasa nikmat jika hal itu dapat melukis senyum manis dibibirnya. Betapa indahnya cinta yang sesungguhnya, sampai tak ada sedikitpun sakit yang dirasakan di kala cinta itu sendiri sudah melekat dalam jiwa manusia. Banyak sekali peristiwa cinta yang berjalan seakan sangat menyakitkan, sehingga remaja hari ini menggap kekasihnya tidak tulus mencintainya. Atau bahkan seringkali muncul bahasa bahwa berjuang sendiri itu sakit, dan masih banyak bahasa-bahasa remaja hari ini yang terdengarnya sangat alay, bahkan hal itulah yang saat ini menjadi gambaran dalam cinta itu sendiri.

Sangat perlu untuk dibedakan antara cinta dan suka. Seperti yang dikatakan di awal cinta itu adalah ketulusan hati yang sebenarnya dapat mengubah segala hal menjadi keindahan. Bahkan salah satu sufi perempuan yang bernama Rabiah Al-Adawaiyah pernah berucap dalam doanya, “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya, tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku”. Itulah Rabiah Al-Adawaiyah yang tidak pernah menghiraukan surga dan neraka, melainkan dalam setiap ibadahnya yang dirinya rasakan adalah keindahan cinta pada Tuhannya.

Jika saja hari seluruh manusia dapat memahami tentang cinta yang sebenarnya, bahkan dapat memberikan ketulusan dari cinta yang dimilikinya, niscaya kehidupan yang sejahtera akan benar-benar tercapai. Permusuhan di muka bumi tidak akan ada, dan dendam yang disebabkan sakit hati juga tidak akan terjadi karena cinta bukan lantas harus memiliki, melainkan membuatnya bahagia adalah kebahagiaan juga baginya. Badiuzzaman Said Nursi pernah mengatakan bahwa cinta yang paling pantas untuk dicintai adalah cinta itu sendiri, dan permusuhan yang paling pantas untuk dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri. Maksudnya adalah, dalam perjalanan cinta tidak pernah ada dendam sakit hati, melainkan saling mengasihi untuk sebuah kebahagiaan. Bahkan jikalau harus ada perseteruan, maka bukan saling menyalahkan satu sama lain, akan tetapi mencari kesalahannya untuk dibenahi, itulah hakikat cinta secara sederhana.

Banyak sekali pendapat tentang cinta, termasuk juga Jalaluddin Rumi yang dikenal sebagai Filsuf Cinta. Menurutnya jika manusia ingin tahu hakikat cinta, maka pergilah ke taman yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang indah, setelah itu pilihlah satu bunga yang paling indah baginya kemudian ciumlah. Namun setelah itu jangan sekali-kali menoleh pada yang lain, karena kau akan menemukan yang lebih indah dari yang telah kau pilih. Maksud dari kalimat yang disampaikan oleh Rumi ialah, manusia akan melalui proses panjang untuk mencapai cinta sejati dan pada saat itu dirinya akan dihadapkan dengan berbagai keindahan yang harus dipilih salah satunya. Namun pada saat dirinya telah memilih, maka di sanalah dirinyapun diuji kesabarannya untuk tetap bertahan pada satu pilihan. Kalau tidak mampu bertahan pada satu pilihan di awal, maka hal itu disebut sebagai manusia yang tidak mampu menempuh hakikat cinta yang sesungguhnya.

Cinta berbeda dengan sekadar suka yang hal itu merupakan sebuah rasa senang terhadap sesuatu sehingga terdorong untuk memiliki atau menjaganya. Antara cinta dan suka adalah dua hal berbeda, namun tidak dapat dipisahkan. Ada sebuah kisah yang membuat saya menjadi sadar bahwa manusia tidak pernah merasa puas. Suatu ketika seorang murid bertanya pada gurunya yang merupakan seorang filsuf, "guru saya ingin bertanya, dulu pada saat saya ingin menikahi istri saya, saya merasa dia adalah wanita paling cantik yang pernah saya temukan, namun saat ini saya melihat istri-istri tetangga jauh cantik dari istriku, apakah cintaku telah pudar guru?". Dengan senyum yang sangat ramah filsuf itupun menjawabnya, “andaikan seluruh wanita di bumi ini berhasil kau nikahi dan semuanya setia padamu, niscaya anjing-anjing di hutanpun akan lebih bergairah dari istri-istrimu”.

Bagi saya percakapan itu menjadi sebuah perbincangan yang lucu namun sangat menyakitkan. Dari hal itu sepertinya manusia yang gagal dalam prosesnya menempuh cinta sejati terasa sangat hina. Dalam cinta tidak ada kata “karena”, sebab jika cinta masih terikat oleh kata "karena" lalu bagaimana jika "karena" itu lenyap, apakah cinta itu masih akan tetap ada. Jika saja cinta itu hadir karena rupa yang menawan, lalu bagaimana jika cinta itu menjelma jadi si buruk rupa, atau jika cinta itu hadir karena sifat baik, lalu bagaimana jika cinta itu menjelma jadi jahat. Cinta yang hadir dengan kata "karena" sebenarnya semua itu bohong. Dan cinta yang hadir dengan kata "sebab", maka akan banyak sebab pula untuk cinta itu sirna. Cinta hadir tanpa perantara, tapi cinta selalu hadir dengan ketulusan rasa.

*Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI). Beralamat di Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Redaktur Pelaksana LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep.

TerPopuler