Miris! Janda Tua di Pamekasan Hidup Serba Kekurangan Bersama Cucunya -->


Miris! Janda Tua di Pamekasan Hidup Serba Kekurangan Bersama Cucunya

Kamis, 17 Januari 2019, 1:49 PM
loading...
Nenek Muni'ah saat menceritakan kehidupannya yang memprihatikan di gubuk reotnya. (Foto Ir/E-KABARI)

PAMEKASAN, E-KABARI.COM - Muni'ah (75) seorang nenek miskin warga Dusun Salatre Duak, Desa Rekkerrek, Kecamatan Palengaan, Pamekasan menghabiskan masa tuanya bersama cucu kecilnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar di gubuk reyot tak layak huni berukuran 2 x 3 meter.

Aktivitasnya sehari-hari ia gunakan untuk bercocok tanam, meski kerap kali penyakit encok dan asam urat kian menyakitkan tubuhnya akibat faktor usia.

Dengan kondisi tubuhnya yang melemah, ia tetap berusaha keras untuk bekerja agar bisa mendapatkan biaya hidup sehari-hari.

“Paha saya sebelah kanan sering sakit dan lutut saya asam urat. Dulu tidak ada biaya untuk berobat, sampai sekarang pun tetap seperti ini," tuturnya, Kamis (17/01/2019).

Aktivitas bercocok tanam yang dilakukan Nenek Muni'ah seperti menanam padi di samping gubuknya. Namun, lahan yang ditanami bukan milik sendiri.

"Lahan ini punya orang, saya hanya bantu menanam," ungkapnya.

Nenek Muni'ah mengaku, kondisi ekonominya sangat buruk. Untuk makan sehari-hari saja, ia hanya menunggu belas kasihan dari tetangganya.

"Sekarang saya tidak sanggup kerja lagi, karena kondisi sudah tua. Meski bercocok tanam, kadang saya sembari merangkak untuk menanam," jelasnya.

Tak hanya itu, kondisi rumah gubuk berukuran 2x3 meter yang ditinggali janda tua tersebut terbuat dari gedek (anyaman bambu) sangat memprihatikan. Di sana-sini dindingnya sudah bolong-bolong dengan atap genting seadanya.

Kondisi sebagian atap dan dinding gubuk itu telah lama rusak dan terbuka. Akibatnya, saat musim hujan Nenek Muni'ah terpaksa tidur dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan.

"Kalau hujan basah, karena atap dan dinding sudah banyak bocor. Mau saya perbaiki tidak ada biaya. Saya berharap ada bantuan untuk memperbaiki rumah, karena kalau hujan basah," harapnya.

Nenek Muni'ah bercerita, beberapa tahun lalu pernah didatangi orang yang katanya dari Pemkab Pamekasan. Orang tersebut melihat kondisi rumah dan mengaku akan memberikan bantuan untuknya.

"Dulu ada orang datang mendata rumah saya lalu di foto, katanya ingin diperbaiki. Tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya," ujarnya, sedih.

Sementara itu, Hasim, Sekretaris Desa Rekkerrek, Kecamatan Palengaan mengaku prihatin dengan kondisi Nenek Muni'ah.

Hasim mengatakan, beberapa waktu lalu ia mengajukan permohonan bantuan rumah kepada Pemkab Pamekasan. Namun hingga kini, nenek Muni'ah tak kunjung mendapatkan bantuan rumah yang layak.

Nenek Muni'ah, sambung Hasim, kini tinggal bersama cucunya yang masih berusia tujuh tahun. Sebelumnya dia tinggal di Desa Banyupelle, namun pindah ke Desa Rekkerrek setelah suaminya meninggal.

"Dari dulu memang tidak ada perhatian dari Pemkab Pamekasan. Harapan saya, ada pihak yang mau membantu membangun rumah Nenek Muni'ah, terutama kepada Dinas Sosial Kabupaten Pamekasan, karena dari desa pernah diusulkan tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” pungkasnya. (Ir/Fiq)

TerPopuler