Perlu Suguhan Moral, Strategi Rekrutmen HMI IAI Al-Khairat Sangat Memalukan -->


Perlu Suguhan Moral, Strategi Rekrutmen HMI IAI Al-Khairat Sangat Memalukan

Minggu, 06 September 2020, 10:15 PM
loading...
Perlu Suguhan Moral, Strategi Rekrutmen HMI IAI Al-Khairat Sangat Memalukan
Ilustrasi. (RK/E-KABARI)

Oleh: Moh. Busri*

Bagi mahasiswa organisatoris, adanya strategi rekrutmen anggota baru dalam sebuah organisasi bukanlah sesuatu yang asing. Segala bentuk cara akan dilakukan guna mensukseskan proses regenerasi dari organisasi itu sendiri. Namun, di sisi lain strategi tersebut juga perlu kiranya untuk digarisbawahi bahwa untuk melakukan proses regenerasi tidak perlu saling menjatuhkan, terlebih sampai menjatuhkan organisasi yang lain.

Baru-baru ini kabar di media sosial ramai memperbincangkan kasus pelecehan terhadap organisasi kemahasiswaan yang bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang dilakukan oleh kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Kasus tersebut bermula dari obrolan kader HMI IAI Al-Khairat berinisial "ER" dengan mahasiswa baru melalui pesan WathsApp. Dalam obrolan tersebut ER mengatakan bahwa PMII hanya memberikan pelayanan terhadap kader-kadernya di awal rekrutmen. Sedangkan setelah lumayan lama berproses di PMII, maka kader-kader tersebut hanya dimanfaatkan semata. Berbeda dengan HMI yang memang kental kekeluargaannya, bahkan sekalipun telah lulus sebagai mahasiswa kekeluargaan itu akan tetap terjalin.

Tidak hanya itu, ER juga menyampaikan bahwa ada sebagian banyak kader PMII IAI Al-Khairat yang menyesal telah masuk pada organisasi PMII, dan orang-orang yang dimaksud itu sangat ingin pindah ke HMI. Di samping itu, ER juga mengatakan bahwa di PMII cinta senior tidak boleh ditolak. (Harian Merdeka Post, 05/09/2020).

Maksud dari merendahkan organisasi lain seperti yang dilakukan kader HMI IAI Al-Khairat tersebut saya pahami sebagai bentuk strategi rekrutmen. Namun, hal itu sungguh tidak baik. Sebab, pola strategi pengembangan organisasi tidak harus dilakukan dengan tidakan yang kurang bermoral seperti itu, yakni menjatuhkan satu sama lain.

Seyogyanya strategi pengembangan organisasi dilakukan dengan cara menunjukkan skill dan potensi kreatif yang dimiliki oleh kader-kader dari setiap organisasi. Agar mahasiswa baru dapat tertarik pada organisasi tersebut, karena memang ada yang bisa membuat dirinya kagum.

Sebenarnya jika boleh saya katakan, tindakan tersebut merupakan kesalahan yang kedua kalinya, bahkan terjerumus pada jurang yang sama pula. Pertama, tindakan kurang bermoral juga pernah dilakukan oleh salah satu kader HMI Komisariat Fakultas Teknik Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FTMIPA) Universitas Indraprasta (UNINDRA) PGRI Jakarta.

Dikutip dari tirto.id, pada tanggal 22 Maret 2020 pukul 19.20 WIB terjadi penganiayaan terhadap salah satu anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Progress UNINDRA PGRI Jakarta. Penganiayaan tersebut dilakukan oleh salah satu kader HMI Komisariat FTMIPA UNINDRA PGRI Jakarta yang diduga tidak terima atas opini berjudul “Sesat Berpikir Kanda HMI Dalam Menyikapi Omnibus Law” yang ditulis oleh Rizky Muazam (anggota LPM Progres). (Tirto.id, 23/03/2020).

Kejadian tersebut sungguh disayangkan bagi kalangan aktivis. Sebab, tidak sepantasnya seorang aktivis bertindak arogan tak bermoral seperti itu. Setelah sekian bulan berlalu, kini organisasi kemahasiswaan bernama HMI tersebut harus kembali dipermalukan oleh tindakan kadernya, walaupun sebenarnya semua itu dilakukan hanya untuk regenerasi organisasi.

Tindakan memalukan kembali harus terjadi untuk yang kedua kali bahkan masih atas nama organisasi yang sama. Harusnya kejadian yang lalu dapat dijadikan sebuah pelajaran, bahkan kasus yang baru saja terjadi di IAI Al-Khairta Pamekasan itu menjadi penekanan bahwa moral menjadi sangat penting untuk diutamakan daripada yang lainnya. Bukan hanya tentang strategi pengembangan organisasi yang harus terus dipikirkan, akan tetapi karakter moral sebenarnya juga menjadi poin plus untuk berkembangnya organisasi.

Hari ini banyak sekali mahasiswa yang inklud dalam sebuah organisasi, akan tetapi tidak jarang di antaranya yang belum bisa berjiwa organisatoris. Maksudnya, mereka hanya dapat berbondong-bondong mengikuti sebuah organisasi, akan tetapi tidak mengerti akan peranan dari organisasi itu sendiri. Padahal, organisasi hadir untuk menjadi wadah yang dapat mendidik karakter dan mental setiap anggotanya agar dapat bertanggung jawab dan peduli terhadap sosial.

Maka jika ditarik kesimpulan, organisasi diharapkan mampu menciptakan anggota yang berkemanusiaan. Namun jika hari ini anggota dari salah satu organisasi masih belum mampu berperilaku baik atau menciptakan kerukunan sesama manusia, maka dapat dikatakan ia belum mampu menjiwai organisasi itu. Sebab, sejatinya organisasi hanya untuk menjadi wadah yang dapat mempermudah tercapainya nilai-nilai kemanusiaan.

Dari beberapa permasalahan yang telah diuraikan di atas, setidak-tidaknya dapat menyadarkan para aktivis untuk lebih memperhatikan langkah yang hendak dilakukan guna menjaga nama baik dari organisasi yang digelutinya. Sudah cukup lama mahasiswa dipandang sebelah mata oleh kalangan masyarakat dengan penilaian bahwa mahasiswa adalah pemuda yang hanya suka berdemo dan bertindak arogan.

Maka untuk menolak penilaian tersebut, hari ini mahasiswa perlu menunjukkan peranan yang sesungguhnya dengan cara memperbaiki karakter moral. Dalam artian bukan berarti mahasiswa tidak boleh melakukan aksi demonstrasi, melainkan mahasiswa harus dapat membuktikan pada masyarakat bahwa aksi yang dilakukannya tidak lain sebagai bentuk kepedulian terhadap hak sosial.

Untuk itu, mahasiswa hari ini perlu untuk memperbaiki karakter moralnya dengan melakukan sikap positif terhadap segala sudut sosial, baik terhadap sesama organisasi kemahasiswaan yang sebenarnya adalah partner bagi dirinya atau terhadap sosial secara umum. Pola strategi rekrutmen untuk regenerasi dalam sebuah organisasi sebaiknya tidak perlu untuk saling menjatuhkan. Akan tetapi, saling berkompetisi untuk menunjukkan skill dan potensinya dalam segala lini. Agar mahasiswa baru dapat benar-benar tertarik karena merasa kagum, bukan malah ikut organisasi hanya dikarenakan doktrinasi yang bernilai negatif.

*Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), beralamat Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Pimpinan Umum LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep Periode 2020-2021.

TerPopuler